PEKERJAAN RUMAH BAGI ANAK TK: PERLU ATAU TIDAK?

 


PEKERJAAN RUMAH BAGI ANAK TK: PERLU ATAU TIDAK?

Pendahuluan

Pekerjaan rumah atau homework selama ini dikenal sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran di sekolah. Guru memberikan tugas kepada peserta didik untuk dikerjakan di luar jam sekolah dengan tujuan memperkuat materi, melatih tanggung jawab, dan membangun kemandirian. Namun, ketika konsep pekerjaan rumah diterapkan kepada anak Taman Kanak-Kanak (TK), muncul pertanyaan penting: apakah anak usia dini memang membutuhkan pekerjaan rumah seperti anak sekolah dasar?

Pertanyaan tersebut penting karena karakteristik perkembangan anak TK berbeda dengan anak usia sekolah dasar. Anak usia dini belajar melalui pengalaman konkret, bermain, interaksi sosial, eksplorasi, gerak, bahasa, dan hubungan yang bermakna dengan orang dewasa. National Association for the Education of Young Children (NAEYC) menegaskan bahwa praktik pendidikan anak usia dini yang sesuai perkembangan (developmentally appropriate practice) harus menggunakan pendekatan yang berpusat pada anak, berbasis kekuatan dan bermain, serta mendukung perkembangan anak secara utuh.

Oleh karena itu, perdebatan mengenai pekerjaan rumah bagi anak TK sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan “boleh atau tidak”, tetapi dilanjutkan dengan pertanyaan: pekerjaan rumah seperti apa yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak TK?

A. Pandangan yang Mendukung Pekerjaan Rumah bagi Anak TK

Pandangan pertama menyatakan bahwa aktivitas belajar di rumah tetap dapat memberikan manfaat bagi anak TK apabila dirancang secara tepat.

1. Memperkuat hubungan antara sekolah dan keluarga

Aktivitas yang diberikan guru untuk dilakukan di rumah dapat menjadi sarana komunikasi antara sekolah dan keluarga. Orang tua dapat mengetahui apa yang sedang dipelajari anak dan kemudian melanjutkannya melalui kegiatan sederhana di rumah.

Misalnya, ketika anak belajar mengenal angka di sekolah, guru tidak harus memberikan 20 soal menulis angka. Guru dapat meminta anak bersama orang tua menghitung jumlah sendok di dapur, menghitung buah, mencari lima benda berbentuk lingkaran, atau mengelompokkan mainan berdasarkan warna.

Penelitian mengenai lingkungan matematika di rumah menunjukkan adanya hubungan positif antara pengalaman matematika anak di rumah dan kemampuan matematika mereka. Sebuah meta-analisis yang mencakup 64 studi dan 68 sampel independen menemukan hubungan positif yang signifikan antara lingkungan matematika di rumah dan kemampuan matematika anak.

2. Membantu perkembangan literasi dan numerasi awal

Aktivitas rumah yang sederhana dapat membantu perkembangan kemampuan dasar anak. Penelitian longitudinal terhadap anak prasekolah menemukan bahwa pengalaman literasi di rumah yang bersifat interaktif, khususnya aktivitas yang melibatkan hubungan huruf dan bunyi, memiliki hubungan dengan perkembangan kemampuan berhitung anak pada masa berikutnya.

Hal ini menunjukkan bahwa belajar di rumah dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan anak, asalkan aktivitas tersebut sesuai usia dan dilakukan secara interaktif.

3. Melatih tanggung jawab dan kebiasaan belajar

Pekerjaan rumah yang ringan juga dapat digunakan untuk membangun kebiasaan positif. Anak dapat belajar bahwa setelah melakukan aktivitas di sekolah, terdapat kegiatan sederhana yang dapat dilanjutkan di rumah.

Namun, pada usia TK, tanggung jawab tersebut tidak harus berupa menyelesaikan lembar kerja. Tanggung jawab dapat diwujudkan melalui kegiatan seperti:

  • merapikan mainan setelah bermain;

  • membantu menyimpan buku;

  • memilih buku cerita yang ingin dibaca;

  • membantu orang tua menghitung benda;

  • membawa hasil karya sederhana ke sekolah;

  • menceritakan pengalaman di rumah kepada guru.

Dengan demikian, “pekerjaan rumah” pada anak TK lebih tepat dipahami sebagai pengalaman belajar di rumah, bukan semata-mata tugas akademik.


B. Pandangan yang Menolak Pekerjaan Rumah bagi Anak TK

Pandangan kedua berpendapat bahwa pekerjaan rumah dalam bentuk konvensional justru kurang sesuai bagi anak usia dini.

1. Anak TK membutuhkan pembelajaran berbasis bermain

NAEYC menempatkan pendekatan bermain sebagai bagian penting dari praktik pembelajaran yang sesuai perkembangan anak. Pembelajaran anak usia dini seharusnya menciptakan pengalaman yang menyenangkan, aktif, bermakna, dan sesuai dengan karakteristik perkembangan setiap anak.

Karena itu, memberikan tugas berupa banyak lembar kerja, menulis berulang-ulang, menghafal dalam waktu lama, atau mengerjakan soal akademik setelah anak pulang sekolah dapat bertentangan dengan prinsip pembelajaran yang sesuai perkembangan.

Anak TK bukanlah “siswa SD dalam ukuran kecil”. Mereka memiliki kebutuhan bermain, bergerak, bereksplorasi, berkomunikasi, berimajinasi, dan membangun keterampilan sosial.

2. Pekerjaan rumah dapat mengurangi waktu bermain dan interaksi keluarga

Waktu setelah sekolah sangat berharga bagi anak. Anak membutuhkan kesempatan untuk bermain bebas, berinteraksi dengan orang tua dan saudara, beristirahat, melakukan aktivitas fisik, serta mengeksplorasi lingkungan.

Apabila pekerjaan rumah diberikan terlalu banyak, waktu tersebut dapat berubah menjadi waktu “sekolah kedua” di rumah.

Padahal, pengalaman sehari-hari seperti memasak bersama, berkebun, berbelanja, membaca cerita, berjalan-jalan, bermain balok, menggambar, atau berbicara dengan orang tua juga merupakan pengalaman belajar.

3. Pendampingan orang tua dapat berubah menjadi tekanan

Masalah lain muncul ketika pekerjaan rumah anak TK terlalu sulit. Anak akhirnya sangat bergantung kepada orang tua. Bahkan dalam beberapa keluarga, tugas anak dapat berubah menjadi tugas orang tua.

Meta-analisis Fernández-Alonso dkk. (2022) terhadap data PISA menemukan bahwa bantuan orang tua terhadap pekerjaan rumah tidak secara otomatis menghasilkan prestasi akademik yang lebih baik. Kesimpulan penelitian tersebut menekankan bahwa cara bantuan diberikan lebih penting daripada banyaknya bantuan.

Penelitian meta-analisis lain oleh Xu dkk. (2024), yang mencakup 28 studi, 32 sampel independen, dan lebih dari 378.000 peserta, menemukan hubungan keseluruhan yang lemah dan negatif antara keterlibatan orang tua dalam pekerjaan rumah dan prestasi. Namun, terdapat temuan penting: dukungan terhadap kemandirian anak (autonomy support) justru berkaitan positif dengan prestasi, sementara kontrol orang tua tidak menunjukkan manfaat yang sama.

Artinya, jika guru memberikan aktivitas rumah, orang tua sebaiknya mendampingi, bukan mengambil alih.


C. Apa Kata Hasil Penelitian?

Penelitian tentang pekerjaan rumah secara umum memberikan gambaran yang cukup menarik.

Sebuah systematic review tentang hubungan waktu pekerjaan rumah dan prestasi akademik pada peserta didik K–12 menemukan bahwa siswa yang mengerjakan pekerjaan rumah memiliki prestasi yang lebih baik dibandingkan siswa yang tidak mengerjakan, tetapi hasil penelitian cukup heterogen dan tidak dapat secara sederhana diterapkan pada semua kelompok usia.

Education Endowment Foundation (EEF) juga menemukan bahwa pekerjaan rumah dapat memberikan dampak positif, tetapi kekuatan bukti berbeda menurut jenjang pendidikan. EEF saat ini menilai pekerjaan rumah memiliki dampak rata-rata sekitar lima bulan kemajuan belajar, tetapi bukti yang mendasarinya dinilai sangat terbatas, dengan penelitian yang lebih banyak berasal dari sekolah dasar dan menengah daripada pendidikan anak usia dini.

Hal ini penting. Kita tidak boleh mengambil kesimpulan bahwa karena pekerjaan rumah bermanfaat pada sebagian siswa sekolah dasar, maka pekerjaan rumah dengan model yang sama pasti bermanfaat bagi anak TK.

Untuk anak usia dini, pertimbangan perkembangan harus menjadi dasar utama.


D. Rekomendasi: Bukan “PR Akademik”, tetapi “Aktivitas Belajar di Rumah”

Berdasarkan berbagai penelitian dan prinsip pendidikan anak usia dini, rekomendasi yang lebih tepat adalah mengubah konsep pekerjaan rumah dari “academic homework” menjadi “home learning activities” atau aktivitas belajar bersama keluarga.

Aktivitas tersebut sebaiknya memenuhi beberapa prinsip berikut.

1. Berbasis bermain

Tugas harus memungkinkan anak belajar sambil bermain.

Contoh:

  • mencari benda berdasarkan warna;

  • bermain puzzle;

  • bermain balok;

  • membuat bentuk dengan plastisin;

  • bermain peran;

  • permainan berhitung menggunakan benda nyata.

2. Berbasis kehidupan sehari-hari

Guru dapat menghubungkan pembelajaran dengan kegiatan rumah.

Contoh:

  • membantu menghitung buah;

  • mengelompokkan pakaian berdasarkan warna;

  • membantu menyusun sendok;

  • menyiram tanaman;

  • mencuci dan mengelompokkan mainan;

  • mengenali bentuk benda di rumah.

3. Membaca bersama orang tua

Daripada memberikan lembar kerja membaca, guru dapat memberikan kegiatan:

“Ayah/Bunda membacakan satu buku cerita kepada anak. Setelah selesai, tanyakan kepada anak siapa tokoh dalam cerita dan bagian mana yang paling disukai.”

Aktivitas semacam ini lebih sesuai dengan prinsip interaksi dan perkembangan bahasa anak.

4. Mengembangkan kemandirian

Tugas sebaiknya memungkinkan anak melakukan sebagian besar kegiatan sendiri.

Contoh:

“Anak memilih tiga mainan yang akan dirapikan sendiri setelah bermain.”

Tujuannya bukan menghasilkan lembar kerja yang sempurna, tetapi membangun tanggung jawab dan kemandirian.

5. Tidak berorientasi pada nilai

Untuk anak TK, guru sebaiknya tidak menjadikan pekerjaan rumah sebagai sarana utama pemberian nilai.

Yang lebih penting adalah mengamati:

  • kemandirian;

  • komunikasi;

  • kemampuan memecahkan masalah;

  • kreativitas;

  • kemampuan mengikuti instruksi;

  • kemampuan bekerja sama;

  • perkembangan motorik;

  • perkembangan sosial-emosional.

NAEYC sendiri menekankan bahwa perkembangan anak berlangsung secara menyeluruh dan pendidikan anak usia dini perlu memperhatikan berbagai domain perkembangan, bukan hanya kemampuan akademik.


E. Jenis Aktivitas Rumah yang Direkomendasikan untuk Anak TK

Jenis aktivitasContohManfaat
Membaca bersamaMembaca 1 cerita sebelum tidurBahasa & literasi
BerhitungMenghitung buah atau mainanNumerasi
EksplorasiMencari benda berdasarkan warna/bentukKognitif
SeniMenggambar keluargaKreativitas
MotorikMelipat, meronce, menggunting sederhanaMotorik halus
Kehidupan sehari-hariMerapikan mainanKemandirian
SosialMembantu orang tuaTanggung jawab
Sains sederhanaMengamati pertumbuhan tanamanSains & rasa ingin tahu
KomunikasiMenceritakan pengalaman hari iniBahasa
KeagamaanMengikuti doa bersama keluargaNilai agama & moral

F. Model yang Sebaiknya Dihindari

Untuk anak TK, guru sebaiknya berhati-hati dengan tugas seperti:

  1. menulis satu halaman penuh secara berulang;

  2. mengerjakan banyak lembar kerja;

  3. menghafal materi dalam jumlah banyak;

  4. tugas yang membutuhkan bantuan penuh orang tua;

  5. tugas yang membutuhkan waktu lama;

  6. tugas yang menyebabkan anak kehilangan waktu bermain;

  7. tugas yang membuat anak tertekan;

  8. tugas yang hasil akhirnya lebih banyak dikerjakan orang tua daripada anak.

Masalah utama bukan semata-mata “ada atau tidak ada PR”, tetapi apakah aktivitas tersebut sesuai dengan perkembangan anak.


G. Rekomendasi Praktis untuk Guru TK

Jika sekolah tetap ingin memberikan aktivitas rumah, saya merekomendasikan model berikut:

“1 Aktivitas Bermakna per Hari”

Tidak perlu memberikan banyak tugas. Cukup satu aktivitas sederhana yang dapat diselesaikan secara alami dalam kehidupan keluarga.

Contoh:

Senin – Literasi
Bacakan satu cerita kepada anak.

Selasa – Numerasi
Ajak anak menghitung lima benda di rumah.

Rabu – Motorik
Ajak anak melipat kertas atau membuat bentuk sederhana.

Kamis – Sains
Ajak anak mengamati tanaman di sekitar rumah.

Jumat – Sosial dan agama
Ajak anak membantu pekerjaan sederhana dan berdoa bersama keluarga.

Dengan model tersebut, rumah tidak berubah menjadi “ruang kelas kedua”, tetapi menjadi lingkungan belajar yang menyenangkan.


H. Kesimpulan

Berdasarkan kajian penelitian dan pandangan ahli pendidikan anak usia dini, pekerjaan rumah bagi anak TK tidak dapat dinilai hanya dengan kategori “baik” atau “buruk”. Manfaatnya sangat bergantung pada jenis, tujuan, durasi, cara pemberian, dan cara orang tua mendampingi.

Pandangan yang mendukung menunjukkan bahwa aktivitas belajar di rumah dapat memperkuat hubungan sekolah-keluarga, memberikan pengalaman literasi dan numerasi, serta membangun kebiasaan positif. Penelitian tentang lingkungan belajar di rumah juga menunjukkan adanya hubungan positif antara pengalaman matematika dan literasi di rumah dengan perkembangan kemampuan anak.

Sebaliknya, pandangan yang menolak pekerjaan rumah akademik untuk anak TK berangkat dari prinsip bahwa anak usia dini membutuhkan pembelajaran yang sesuai perkembangan, terutama melalui bermain, interaksi, eksplorasi, dan pengalaman konkret. NAEYC secara jelas menempatkan pendekatan bermain dan pembelajaran yang menyenangkan sebagai bagian penting dari developmentally appropriate practice.

Dengan demikian, rekomendasi yang paling tepat bukan menghapus seluruh aktivitas belajar di rumah, tetapi mengubah bentuknya.

Anak TK sebaiknya tidak dibebani pekerjaan rumah akademik yang berat. Sebagai gantinya, berikan aktivitas belajar di rumah yang singkat, menyenangkan, berbasis bermain, terkait kehidupan sehari-hari, melibatkan interaksi positif dengan keluarga, dan mendorong kemandirian anak.

Dengan pendekatan tersebut, sekolah dan keluarga dapat bekerja sama tanpa menghilangkan hak anak untuk bermain, beristirahat, bereksplorasi, dan menikmati masa kanak-kanaknya.

Referensi Utama

  1. National Association for the Education of Young Children (NAEYC). (2020). Developmentally Appropriate Practice Position Statement.

  2. Barger, M. M., Kim, E. M., Kuncel, N. R., & Pomerantz, E. M. (2019). The relation between parents' involvement in children's schooling and children's adjustment: A meta-analysis. Psychological Bulletin, 145(9), 855–890.

  3. Fernández-Alonso, R., Álvarez-Díaz, M., García-Crespo, F. J., Woitschach, P., & Muñiz, J. (2022). Should we Help our Children with Homework? A Meta-Analysis Using PISA Data. Psicothema, 34(1), 56–65.

  4. Xu, J., Guo, S., Feng, Y., Ma, Y., Zhang, Y., Núñez, J. C., & Fan, H. (2024). Parental Homework Involvement and Students' Achievement: A Three-Level Meta-Analysis. Psicothema, 36(1), 1–14.

  5. Jiang, Q., Shi, L., Zheng, D., & Mao, W. (2023). Parental homework involvement and students' mathematics achievement: A meta-analysis. Frontiers in Psychology, 14, 1218534.

  6. Soto-Calvo, E., Simmons, F. R., Adams, A.-M., Francis, H. N., Patel, H., & Giofrè, D. (2021). Identifying the preschool home learning experiences that predict early number skills: Evidence from a longitudinal study.

  7. Education Endowment Foundation (EEF). Homework: Teaching and Learning Toolkit.

  8. Yang, Z., Yu, Y., & Chen, R. (2026). The effect of E-homework on K-12 students' academic achievements: A meta-analysis study. Frontiers in Psychology.

Chat Admin